4 Beato Martir SVD 

Pada tanggal 13 Juni 1999, empat misionaris SVD dinyatakan sebagai beato, yang merupakan tahap terakhir dalam proses menjadi santo, orang kudus Allah. Keempat konfrater tersebut adalah bagian dari 108 martir Polandia yang menjadi korban Perang Dunia II. Mereka disiksa dan dibunuh oleh tentara Nazi Jerman di beberapa kamp tawanan, yang selama perang dunia II menguasai Polandia dan negara-negara sekitarnya. Kematian mereka sungguh merupakan kesaksian atas iman yang mereka yakini secara teguh hingga akhir hayat hidupnya. Untuk itulah, sebagai bentuk penghormatan atas kesaksian iman mereka, setelah melalui proses yang panjang, diadakanlah upacara beatifikasi yang dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II dan diselenggarakan di Warsawa, ibu kota Polandia.


Fr. Stanislaus Kubista, SVD (Stanislaw Kubista) lahir pada tahun 1889, di Kostuchna. Setelah tahbisan imamat pada tahun 1927, ia bekerja di bagian publikasi majalah-majalah Serikat Sabda Allah. Ketika pasukan Jerman menguasai Polandia pada tahun 1939, kantor publikasi tersebut dihancurkan, dan seluruh majalah atau koran terbitan mereka juga dibredel. Sementara itu, para anggota SVD pun dipenjarakan dan pada tanggal 5 Februari 1940, mereka dikirim ke kamp konsentrasi di Gdansk. Kondisi kamp tersebut sangatlah buruk, udara sangat dingin, dan para tahanan menderita kelaparan, kerja rodi dan diperlakukan sangat kejam.

Dua bulan kemudianpara tahanan tersebut dipindahkan ke sebuah penjara dekat kota Berlin, Jerman. Pater Kubista wafat di kamp tersebut pada tanggal 26 April di Orienburg-Sachsenhausen. Seorang saksi mata mengungkapkan bahwa ia menjadi sangat lemah akibat radang paru-paru dan usus. Selama 3 hari lamanya ia terbaring lemah tak berdaya di lantai ruang cuci, yang  menjadi tempat pembuangan terakhir para tahanan yang sekarat.  Pada tanggal 26 April 1940, kepala penjara memasuki barak tersebut, dan ia berdiri di hadapan Pater Kubista yang terbaring lemah. Dengan suara yang keras, ia berkata kepada Pater Kubista, “Engkau sudah tidak layak lagi untuk hidup!” Seiring dengan itu, bermuka dingin, bengis dan kejam, ia pun melompat ke badan Pater Kubista, menjejakkan satu kaki di dada dan kaki lainnya di leher. Ia menghancurkan tulang dada dan lehernya, hingga tak lama kemudian Pater Kubista wafat di kaki kepala penjara tersebut. Akhirnya, jenazahnya lalu dikirim ke ruang krematoriumdi kamp konsentrasi itu.


Bro. Gregory Frackowiak (Grzegorz Frackowiak) lahir pada tahun 1911 Lowecice. Pada tahun 1938 ia masuk Serikat Sabda Allah. Selama masa penganiayaan tentara nazi, Bruder Gregorius bekerja di perusahaan percetakan di Lowecice. Pada Musim Gugur 1942, terjadilah penangkapan masal karyawan percetakan itu karena beredarnya pamflet-pamflet anti Nazi. Sama seperti orang-orang di sekitarnya, Bruder Gregorius juga  membaca dan menyebarkan pamflet-pamflet tersebut. Pada Musim Gugur tahun berikutnya, 1943, ia menghadap superiornya tentang penangkapan masal, katanya: “Saya adalah salah satu orang yang dicari Nazi!” “Tenang,” jawab superiornya, “Ada banyak tempat persembunyian di Poznan di mana engkau bisa pergi dan bersembunyi di sana.” “Saya tahu,” kata Bruder Gregorius, “Tetapi, Pater, bolehkah saya meminta kepada mereka yang ditangkap untuk menyalahkan saya sebagai penulis pamflet? Ada banyak bapak keluarga di antara mereka yang dipenjarakan. Boleh saya mengambil tempat mereka, menggantikan mereka yang ditangkap tersebut? Saya lah yang harus bertanggungjawab!”

Hari berikutnya, Bruder Gregorius mengucapkan salam perpisahan kepada superiornya, dan ia pun ditangkap bersama dengan mereka yang membaca dan menyebarluaskan pamflet-pamflet anti Nazi. Dengan tertangkapnya Bruder Gregorius, beberapa tahanan pun akhirnya dibebaskan dan kembali ke keluarga mereka. Bruder Gregorius dihukum mati dan pada tanggal 5 Mei 1942, dipenggal kepalanya di sebuah penjara di Dresden, Jerman.


Fr. Aloysius Liguda lahir pada tahun 1898, dekat Opole. Ia ditahbiskan imam pada tahun 1927. Kemudian ia melanjutkan studi di Universitas Poznan pada tahun 1930, dan meraih gelar S2 (Master degree) di bidang sastra Polandia. Ia menulis 3 buku, mengajar di seminari SVD dan terpilih menjadi superior (rektor domus)  biara komunitas SVD di Gorna Grupa. Ketika Nazi memasuki Polandia tahun 1939, biara tersebut dialihfungsikan sebagai kamp tawanan untuk para imam dan seminaris. Pada tanggal 5 Februari 1940, para tawanan dipindahkan ke sebuah kamp konsentrasi di Gdansk, lalu dipindahkan ke Dachau.

Sebagai seorang tahanan yang dapat berbahasa Jerman, ia pun ditugaskan menjadi penterjemah untuk para tawanan lainnya, menyelamatkan mereka dari berbagai kekejaman SS. Dalam suatu kesempatan, ia menulis: “Orang boleh memperlakukan saya secara hina, tetapi mereka tidak sanggup menjadikan saya seorang budak; Dachau dapat saja merampas semua hak azasi saya, tetapi kehormatan saya sebagai anak Allah tidak dapat diambil oleh siapa pun!”  

Pada tahun 1942, saat Pater Liguda menjadi semakin lemah, seorang pengawal Nazi memindahkannya bersama orang-orang tawanan lain ke sebuah bak air raksasa, tempat percobaan, untuk menguji kekuatan fisik, yakni berapa lama orang yang tenggelam dapat dihidupkan kembali. Sebelum meninggalkan sel-nya, ia menyatakan, “Jika saya Pater Aloysius kehilangan nyawa saya, kamu akan tahu bahwa mereka telah membunuh seorang Liguda yang sehat.” Laporan resmi mengungkapkan bahwa ia bersama para tawanan lainnya wafat karena pneumonia.


Fr. Louis Mzyk, yang lahir pada tahun 1905 di Chorzaw, Polandia. Pada tahun 1932 ia ditahbiskan menjadi imam. Setelah meraih gelar doktor di bidang Teologi di Roma, ia diangkat menjadi seorang Pembina novis di Novisiat di Chludowo, dekat Poznan.

Pada Januari 1940, setelah berbicara dengan seorang agen rahasia Gestapo untuk mengutarakan rencananya mengirim para novisnya ke Austria atau Roma, Italia, ia ditangkap.  Ia lalu ditawan di sebuah penjara di Poznan, di mana ia bersama dengan 9 imam lainnya ditahan di sebuah sel yang sempit, dan berlantaikan jerami. Para tentara Nazi seringkali mengejek dan menyiksa mereka di hadapan para tamu. Menghadapi perlakuan tersebut, Pater Mzyk berani melawan. Atas keberaniannya tersebut,  akhirnya bersama dengan dua imam lainnya, ia pun dipukuli dan ditembak dari jarak dekat oleh pimpinan kamp. Jenazah mereka dibuang ke hamparan salju di pelataran luar kamp Nazi itu.


Leave a Reply