Profil

Profil SOVERDI St. “Arnoldus”  Surabaya

Soverdi “St. Arnoldus” merupakan rumah Biara induk dari SVD Propinsi Jawa. Terlteak di Jl. Polisi Istimewa 9, Surabaya, Soverdi “St. Arnoldus” menjadi kantor pusat pimpinan SVD Propinsi Jawa dan sekaligus tempat tinggal serta transit para anggota Tarekat. Ketika SVD Propinsi Jawa terbentuk di tahun 1978, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Misi SVD Ende, kota Surabaya dipilih menjadi pusat pimpinan Tarekat karena posisinya yang strategis untuk seluruh wilayah misi SVD Indonesia. 

SEJARAH

Semenjak awal, ketika menjejakkan kakinya untuk pertama kalinya di bumi Indonesia, SVD telah memberi perhatian yang besar atas pentingnya posisi kota Surabaya bagi karya misi SVD. Posisi geografis kota Surabaya sangatlah strategis. Dalam catatan dari “Telusur Jejak Para Misionaris Belanda”, disebutkan bahwa “Surabaya boleh dikatakan merupakan tempat transit dari Jawa ke Nusa Tenggara. Betapa tidak. Para misionaris, imam, bruder dan suster hampir semuanya melewati Surabaya sebelum tiba di Nusa Tenggara. Banyak kebutuhan Misi yang didatangkan dari luar negeri dan dari Jawa juga melewati kota pelabuhan Surabaya atau memang harus dibeli di kota itu. Perawatan orang sakit yang tidak bisa ditangani di Nusa Tenggara dirujuk ke Surabaya. Kapal-kapal misi, Stella Maris dan kemudian Ratu Rosari menjadikan Tanjung Perak sebagai pangkalannya.”

Namun karena belum memiliki rumah sendiri, saat para konfrater SVD berada di Surabaya, mereka menginap di biara-biara yang ada di sekitarnya. Salah satunya ialah biara susteran SSpS di Jl. Jimerto 18-26, Surabaya. Biara ini terdiri dari 5 rumah dan, selama masa perang, dijadikan tempat kediaman para petinggi orang-orang Jepang. Ketika pada tanggal 28 Mei 1949 kompleks rumah tersebut dibeli oleh Kongregasi Suster SSpS, renovasi pun dilakukan secara besar-besaran. Rumah tersebut ditata sedemikian rupa untuk penambahan kamar-kamar sehingga menjadi luas.

Karena itulah, para suster berkenan menerima tamu para misionaris SVD yang sedang dalam perjalanan transit ke dan/atau dari daerah misi mereka di Nusa Tenggara, atau yang melakukan berbagai kepentingan di daerah Surabaya sekitarnya. Letak geografisnya sangat strategis karena berada di pusat kota. Hanya saja, lingkungannya tidak mempunyai reputasi yang baik  karena berada di daerah “lampu merah.” Pater Wezter, dalam catatannya, menyatakan bahwa dia pertama kalinya menginap di rumah tersebut pada tahun 1950.

Karena kepentingan SVD semakin besar di Surabaya, maka Regio SVD Ende, di tahun 1961, mengutus P. Johanes Ebben, SVD untuk membuka dan memimpin kantor SOVERDI. Ia tinggal untuk sementara waktu di rumah tersebut. Namun, dalam perkembangan berikutnya, SSpS berkenan menjual dan menyerahkannya kepada SVD dengan ijin prinsip tertanggal 23 Maret 1964. Setelah itu beberapa konfrater datang untuk tinggal dan memperkuat komunitas SVD. Tercatat konfrater Br. Theo Tobe, P. A. Donkers, Br. Aloysius Seitz, P. Alois de Rechter, P. Frans Laug, Br. Berchmans Martins, P. A. Wezter, P. Vitalis Vermeulen, Br. Aurelius Solo, Br. Pancratius Suban menjadi tokoh-tokoh pioner yang memulai komunitas dan karya SVD di Surabaya.

Pages: 1 2