SVD INDONESIA DI TENGAH PUSARAN PERUBAHAN ZAMAN SUPERSONIK

SVD INDONESIA DI TENGAH PUSARAN PERUBAHAN  ZAMAN SUPERSONIK

(Sebuah coretan reflektif untuk perayaan Yubileum – 100 tahun SVD Indonesia)

1. Catatan Awal:

Waktu mengalir begitu cepat. Rasanya seperti sebuah mimpi. Perubahan-perubahan yang tobysungguh dahsyat telah dan sedang terjadi sepanjang zaman, menyinggung semua aspek kehidupan manusia. Perubahan-perubahan ini bisa dilacak dari awal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menguasai dunia ini dan menimbulkan apa yang dinamakan globalisasi. Hal ini pun sangat berpengaruh besar dalam perubahan mental, spiritual, kultural dan relasi sosial manusia. Keadaan yang kompleks ini diperumit pula oleh perkembangan teknologi di bidang media massa dan jaringan telekomunikasi yang menawarkan nilai baru yang bersifat sekular.

Bagaimana SVD Indonesia sebagai bagian integral dari sebuah Serikat Internasional memposisikan dirinya di tengah pusaran perkembangan dan perubahan ini? Apakah SVD Indonesia yang merayakan Yubileum – seabad kehadirannya di bumi persada Indonesia tercinta ini, berani merumuskan kembali misinya sesuai dengan perkembangan zaman tanpa tercabut dari akar spiritualitasnya? Serikat Sabda Allah yang terjelma dalam diri para anggotanya, masih mau melangkah maju dan berani meninggalkan bekas kaki di bumi Indonesia ini. Gema suara kenabiannya masih tetap bergaung.

2. SVD – Sebuah Serikat Internasional dalam Dinamika Nasional, antara Kenyataan dan Harapan

Setiap penemuan dalam abad ini seabad Tak ada dalam adalah cenderung mempercepat irama hidup manusia, bisnis, industri, komunikasi, dan mengubah manusia menjadi semacam komputer insani. Makin tinggi kecepatan kita, makin pesat perkembangan usia kita dan makin besar pula ketegangan emosional yang menyerang kita masing-masing.

Dalam perkembangan sejarah Serikat Sabda Allah ( SVD) di bumi Indonesia selama ini, kita diundang untuk menjalani kebijaksanaan yang lebih hebat, kalau tidak memenuhinya, kita akan tertindas dan tergilas oleh irama kehidupan modern yang begitu pesat. zaman sebelumnya yang begitu memerlukan falsafah praktis tentang kehidupan waras seperti halnya zaman kita.

Saya mempunyai aneka alasan untuk merasa bangga atas Serikat Sabda Allah. Kalau saya diminta untuk menulis kesan dan pesan, tidak lain daripada menulis tentang pengalaman mengenai diri sendiri sebagai anggota Serikat Sabda Allah yang bertanggungjawab penuh dinamika hidup dari sekarang dan selanjutnya. Atau saya boleh katakan, saya bagian integral dari sebuah Serikat Internasional. Bagaimana saya mengalami dan merasakan derap langkah hidupku di bawah naungan sayap Serikat Sabda Allah yang tahun 2013 merayakan kehadirannya di bumi persada Indonesia tercinta ini.

Kita tidak bisa mengubah hari kemarin. Besok mungkin tidak akan datang. Sekaranglah satu-satunya waktu yang bisa diterima. Tanpa sadar, kita sedang mengadakan hidup kita sesuai dengan derap langkah zaman yang supersonik ini. SVD tidak bisa menjadi barang kuno yang tersimpan dalam museum, atau gudang masa lalu yang patut dikenang, tetapi SVD adalah personalianya, manusianya – anggotanya yang menjadi bagian utuh dari dan dalam sebuah persaudaraan Internasional, menjalani hidupnya dalam dunia yang penuh dinamika.

3. Aneka Kesempatan dalam Hidup

Orang bijak mengatakan bahwa, “Setiap fajar baru adalah kelahiran hari baru. Buatlah setiap hari menjadi petualangan mulia, bermartabat dan bernilai, sehingga sulit untuk dilupakan, tetapi tetap dikenang sepanjang hidup.” Kita telah memasuki arus utama kehidupan suatu abad baru dari sebuah Serikat Internasional yaitu SVD – (Societas Verbi Divini = Serikat Sabda Allah).

Kita mulai hidup yang terarah ke depan dan mengembangkan misi Allah yaitu misi kemanusiaan – misi penyelamatan umat manusia. Kita tentu berniat dan berupaya untuk mengembangkan yang terbaik pada diri kita untuk perkembangan Kerajaan Kasih Allah yang telah menjelma menjadi Manusia, yang ada di antara kita dan di dalam diri kita. Dia telah mengadakan mujizat dalam seluruh perjalanan hidup SVD di bumi Indonesia tercinta ini – karena iman dan kepercayaan bahwa Tuhan sedang melaksanakan karya agung dalam diri para anggota Serikat dan seluruh umat yang dipercayakan pada tugas penggembalaannya. Bolehkah kita mengatakan dengan yakin bahwa di sana sukses? Berbicara tentang sukses saya teringat akan kata-kata Henry Wadsworth Longfellow: “ Bukannya pada kebisingan di jalanan riuh, bukannya di tengah teriakan dan sorakan orang banyak, melainkan pada diri kita sendirilah terdapat kemenangan dan kekalahan.”

Sukses adalah peningkatan segala sesuatu yang berharga, yang kita inginkan dari kehidupan. Bagi sementara orang , penumpukan uang dan harta kekayaan yang tak terbilang merupakan tanda sukses. Untuk orang lainnya, sukses berarti membesarkan anak-anak yang baik, bahagia dan sehat. Bagi yang lain lagi berarti memberikan pelayanan kemanusiaan, seperti menjadi orangtua, guru, imam, pekerja sosial, karyawan dan lain-lain. Apa pun arti sukses bagi kita, hal ini selalu disertai dengan kebahagiaan dan kedamaian batin. Beberapa kegagalan besar dalam hidup adalah memiliki harta duniawi yang berlimpah ruah, tetapi karakternya bangkrut, dan tidak ada damai batin.

Sang Pencipta tidak pernah mengharapkan makhluk ciptaanNya menjalani hidup yang dangkal dan sempit, tergesa-gesa tanpa orientasi atau tidak mempunyai visi dan sekedar numpang hidup. Kita diciptakan untuk berbagi berkah hidup yang berlimpah. Kita memiliki kemampuan untuk meraih sukses. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kita untuk sukses, kecuali diri kita sendiri. Kita memiliki kekuatan dan kemampuan sebagai suatu kepercayaan dari Tuhan. Hidup bukanlah sebuah perjudian. Kita menjadikan hidup sebagai sebuah perjudian bila kita gagal memberikan jawaban terhadap diri kita sendiri. Kita mempunyai kemampuan untuk berbuat apa pun yang pernah dilakukan orang lain. Inilah warisan yang tak ternilai. Inilah hak asasi kita untuk meraih sukses.

Apabila dikaji secara mendalam pernyataan, “Meraih sukses adalah hak asasi, manusia,” dapat kita katakan bahwa orangorang yang berhasil melakukan sesuatu yang berharga di dunia ini adalah orang-orang yang pernah melakukan kekeliruan. Sebagai contoh, sepuluh ribu kali Edison gagal, sebelum akhirnya menyempurnakan penemuan lampunya. Ketika seseorang memberi komentar kepadanya bahwa gagal sepuluh ribu kali itu sungguh rekor yang sangat buruk, Edison menjawab, Saya tidak gagal sepuluh ribu kali, “ saya berhasil menghapuskan sepuluh ribu hal yang tidak beres.”

Tentu suatu saat kita akan melakukan, lalu bagaimana? Jawabannya terletak pada perhitungan sadar untuk membuat lebih banyak keputusan yang benar dan bijaksana daripada keputusan yang salah dan tidak bijaksana. Kebijaksanaan bukanlah pengetahuan. Kebijaksanaan adalah penerapan pengetahuan secara benar dan konsekuen. Satu permainan salah tidak membuat sepak bola berhenti. Sebuah pepatah kuno yang sungguh menginspirasi kita untuk melangkah di abad baru perjalanan SVD di Indonesia lebih yakin diri, “Kebimbangan adalah tempat pemakaman niat baik.”

“Kita tidak menghitung tahun-tahun yang dijalani seseorang sampai ia tidak punya hal lain untuk dihitung” demikian Ralph Waldo Emerson. John Wesley masih terus berkhotbah setiap hari ketika usianya 88 tahun. Benyamin Franklin berangkat ke Perancis mengemban tugas negara ketika berumur 78 tahun dan menulis biografinya setelah usianya lebih dari 80 tahun. Paus Leo XIII menampilkan sebagian besar kebijaksanaannya yang mencerahkan setelah usianya lewat 70 tahun. Ke-muda-an ada di dalam diri kita masing-masing. Orang harus tetap mempertahankan agar batinnya tetap terus muda. Jika pikiran manusia berhenti untuk menciptakan perbaikan pada dirinya, tidak ada lagi minat aktif terhadap peristiwa dalam kehidupan. Berhenti membaca, berpikir dan berbuat, maka manusia akan mati pada kediriannya yang utama.

Bagaimana kita menyikapi situasi dan kondisi misi pelayanan dan penyelamatan yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Sidney Newton Bremer pernah mengatakan, “Sukses dalam berbagai usaha punya akar mendalam pada sikap, bukan pada bakat.” Di abad supersonik ini, kebanyakan akademisi memberikan tekanan pada bakat. Sebenarnya bukanlah bakat yang harus diperhitungkan lebih banyak, melainkan sikap. Bakat tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan sikap. Sikap adalah segalanya. Aneh bahwa kita sering melenceng dari pemikiran kita, padahal kita tahu bahwa kita bisa mengendalikannya. Dengan pengendalian pemikiran, kita dapat menata hidup kita ke tujuan yang lebih bermartabat.

4. Catatan Penutup

Sejarah tidak mempermasalahkan kekuasaan yang dimiliki orang atau berapa banyak emas atau harta kekayaan yang disimpan seseorang. Satu-satunya hal yang dipertanyakan oleh sejarah tentang diri manusia yang telah meninggalkan dunia adalah “Orang macam apakah dia?” dan “Apa yang dilakukannya bagi kemanusiaan?”

Ujian bagi kerja kita dalam hidup terletak pada nilai kelangsungannya. Hal-hal yang kita lakukan untuk kepentingan kemanusiaanlah yang akan terus dikenang. Sumbangan yang kita berikan untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik dan layak dihuni adalah kenangan abadi tentang kita.

Perjalanan Sejarah Serikat Sabda Allah (SVD) seabad di Indonesia tercinta ini dan pengalaman suka dan duka, tawa dan tangis menunjukkan bahwa kemanusiaan bangkit atau jatuh, akan dipikul bersama. Maka sungguh sangat masuk akal, apabila kita sungguh menyadari bahwa semua makhluk adalah bagian dari rencana Ilahi, memberikan manfaat kepada semua sesama manusia. Sesama kita adalah diri kita sendiri, sebab mereka juga adalah ekspresi dari akal budi semesta yang satu. Phillips Brooks mengatakan, “Orang tidak benar-benar mendapatkan kejayaan sejati, kalau ia tidak merasa dalam derajat tertentu bahwa hidupnya adalah milik sesamanya, dan bahwa yang diberikan Tuhan kepadanya itu diberikan baginya demi kemanusiaan.”

Bila kita menyadari bahwa kita dan sesama sebenarnya adalah satu, maka kita mempunyai mempunyai kewajiban untuk saling mencintai, seperti halnya kita mencintai diri kita sendiri, sebab semua orang adalah satu dengan kita. Inilah kebenaran paling besar di antara segala kebenaran. Hanya dengan memperlakukan sesama seperti memperlakukan diri kita sendiri, maka kita sebagai individu baru bisa menemukan kebahagiaan dan sukses sejati. Dalam kaitannya dengan gagasan ini, saya teringat akan kata-kata Joseph Joubert sebagai berikut, “Sedikit banyak kita semua merupakan gema, yang secara tidak sengaja mengulangi kebajikan, keburukan, gerakan dan karakter orang-orang yang ada di sekeliling kita.”

Seperti terbitnya matahari di pagi hari, musim panen dalam Serikat kita akan tiba. Panen yang kita terima akan sebanding dengan benih yang kita taburkan, sesuai dengan Hukum Kompensasi yang tidak bisa dielakkan. Berkah hidup akan mengalir berlimpah ruah bagi orangorang yang tetap menjaga hatinya agar bersih serta memiliki akal budi dan tubuh yang murni.

“DIRGAHAYU 100 TAHUN SVD DI INDONESIA!”

Rm. Thoby M. Kraeng, SVD

SOVERDI St. Arnoldus, Surabaya

Referensi:

1. Bremer Newton, Sidney. 366 Esai Untuk Memotivasi Diri. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1995.

2. Schneider Rogue. The Importance of Small Things. Makati: St. Paul Publications,1986

3. Sudiarja. A. Agama di Zaman Yang Berubah. Yogyakarta: Kanisius, 2006. SVD Indonesia Di Tengah Pusaran Perubahan Zaman Supersonik

Sumber:

Buku Kenangan Perayaan 100 tahun  SVD Indonesia dan 35 tahun SVD Provinsi Jawa

Comments are closed.