SEMANGAT DAN KREATIVITAS MISIONARIS KITA

SEMANGAT DAN KREATIVITAS MISIONARIS KITA:

Merayakan momentum Historis Misi SVD tanah Air ( P. Raymundus Sudhiarsa)

Pada tahun ini (2013) SVD merayakan 100 tahun karya misinya di Indonesia. Tahun ini pula raygenap 35 tahun usia SVD Provinsi Jawa (IDJ), yang wilayah perutusannya meliputi Lombok, Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatra dan pulaupulau di sekitarnya, dengan provinsialat yang berkedudukan di Surabaya. Ada pula catatan historis lain, yakni bahwa pada tahun 2010 yang lalu Distrik SVD Bali-Lombok – yang sebelumnya sebagai Regio Bali-Lombok dan berkedudukan di Tuka – telah merayakan 75 tahun jejak-jejak para misionarisnya di wilayah ini.

Semua detail peristiwa penting yang berlangsung dalam momen-momen historis ini kita rayakan dengan penuh syukur, sebuah perayaan yang mengandung sekurangkurangnya dua pesan. Pertama, kita menilik dan mengenang momen-momen sejarah perutusan kita berikut para misionaris yang datang di Nusantara dari awal sampai dewasa ini. Kedua, kita menimbang dan menerawang kemungkinan perkembangannya di masa depan sambil menyegarkan komitmen misioner kita ‘hidup bagi sesama’.

Tulisan ini terbatas hanya sebagai sebuah catatan dan refleksi sederhana saja. Dengan ruang yang terbatas, data historis yang tidak lengkap, dan juga tujuan yang terbatas, saya ingin menelisik dan menemukan alasanalasan kita bersyukur kepada Allah di tengah semangat dan kreativitas misioner para samasaudara, utamanya para senior kita. Nuansa dasarnya ialah kita patut berbesar hati karena SVD telah ikut serta secara aktif memajukan mahakarya Allah, yakni membangun Kerajaan-Nya, di dalam Gereja-gereja lokal di tanah air tercinta ini.

MELIBATKAN DIRI DALAM MISI GEREJALOKAL

Secara geografis, tempat samasaudara SVD IDJ berkarya tersebar dari Lombok di bagian Timur sampai ke Sumatra Utara di bagian Barat. Artinya, wilayah ini meliputi hampir separuh dari Nusantara ini. Wilayah yang cukup luas secara geografis dengan keragaman sosial, religius, kultural, dan suku ini dilayani dengan personalia terbatas berjumlah 156 orang yang tertahbis dan berkaul kekal, namun semangat misioner masih tetap menyala. Untuk memudahkan koordinasi internal, wilayah pelayanan ini dibagi dalam tujuh distrik, yakni Distrik Bali-Lombok (dalam Keuskupan Denpasar), Distrik Surabaya (dalam Keuskupan Surabaya, Keuskupan Malang, Keuskupan Agung Semarang), Distrik Jakarta (dalam Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor), Distrik Sumatra Utara (dalam Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Pangkalpinang), Distrik Kalimantan Barat (dalam Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau), Distrik Kalimantan Tengah (dalam Keuskupan Palangkaraya), dan Distrik Kalimantan Timur (dalam Keuskupan Agung Samarinda). Pernah cukup lama pula SVD melayani paroki Merakai di Keuskupan Sintang dan melakukan misi di Sabah, Malaysia, dengan pos pusat di Nunukan.

Kita memiliki catatan bahwa sejak kedatangan misionaris-misionaris kita di Lombok dan Bali pada tahun 1935 – untuk cura animarum bagi kaum migran, pedagang, dan pegawai pemerintah kolonial berkebangsaan Eropa dan non-pribumi lainnya – lalu meluas ke keuskupan-keuskupan lain seperti tersebut di atas, bidang-bidang karya pelayanan yang ditangani berkembang dan semakin beragam sesuai dengan tuntutan medan misi. Kita rinci, misalnya, cura animarum umat paroki (baik kota maupun pelosok terpencil); pendidikan formal (dasar dan menengah, pendidikan calon imam, biarawan, katekis) dan non-formal (pusat latihan ketrampilan kerja: pertukangan, mozaik); administrasi gerejawi (intern SVD, KWI, KKI, Keuskupan); pastoral kategorial yang meliputi kaum migran (TKI/TKW, pelaut, turis mancanegara, Komunitas Jerman), keluarga (ME, Warakawuri, KBA, Tulang Rusuk, kaum muda), bidang-bidang JPIC, konservasi-penelitian-pengembangan budaya dan agama (perpustakaan Widya Wahana di Tuka, puslit Aditya Wacana di Malang); sampai pada pelayanan-pelayanan kategorial di wismawisma retret/samadi (Wisma Samadi di Klender, Tugu Wacana di Cisarua, Graha Wacana di Ledug). Kalau memakai ungkapan yang dipakai oleh Kapitel General tahun 2000, semua karya misi ini merupakan `dialog profetis’ dalam praksis.

Pembagian bidang pelayanan dengan kategori-kategori ini hanyalah upaya sederhana saja untuk memilah-milah karya misi kita. Pada kenyataannya berbagai bidang karya ini hampir selalu saling terkait satu sama lain – bahkan mungkin tumpang tindih – karena masyarakat yang dilayani juga tidak homogen. Bayangkan saja heterogenitas Lombok, Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sumatra saat ini secara sosioekonomi, budaya, dan agama! Atau, tengoklah perkembangan historisnya dari zaman kolonial ke zaman kemerdekaan Republik Indonesia, lalu pasca kemerdekaan dan era globalisasi dewasa ini! Dalam banyak hal kita mengakui bahwa daerah misi menentukan agenda kerja kita. Maksudnya, dunia memberikan kita agenda misi.

Semua jenis karya ini dilaksanakan tentu bukan dengan daya dan modal yang dimiliki oleh Tarekat semata-mata. Sebaliknya, kerjasama terpadu dan dukungan dari banyak pihak telah memungkinkan semua karya misi partisipatif ini berjalan. Kita sebut, antara lain, kaum awam dan lembaga-lembaga gerejawi baik di dalam maupun luar negeri, biarawanbiarawati dari berbagai kongregasi, juga para klerus diosesan dan kongregasi imam lainnya sebagai patner yang tak terpisahkan. Lebih dari semuanya itu, undangan dan restu para Uskup, sebagai gembala-gembala utama dalam Gerejagereja lokal, merupakan payung pastoral yang utama.

Telisik historis secara sederhana ini, saya yakin, dengan jelas telah membuka karakter dan jatidiri Tarekat misi, yang didirikan oleh Santo Arnoldus di desa Steyl, Belanda, pada tahun 1875. Sebagai Tarekat misi (imam dan bruder), SVD dirancang untuk menjadi Tarekat yang tanggap terhadap kondisi dan kebutuhan zaman; Tarekat yang terbuka untuk turut mengarahkan perubahan sosio-kultural dan perkembangan masyarakat, baik etnis-etnis terpencil maupun budaya urban yang dinamis. Singkatnya, semangat lintas budaya dan/atau spiritualitas beralih (passing-over) merupakan karakter khas yang mencirikan pribadi samasaudara SVD. Secara tersirat, telisik historis ini juga mau mengatakan bahwa setiap anggota Tarekat diandaikan selalu melewati proses pendidikan dan pembentukan karakter sedemikian rupa sehingga menjadi biarawan-misionaris yang `hidup bagi sesama’. Pola pikir dan pola laku rela-sedia melayani dunia dan terbuka kepada sesama merupakan karakter dasar setiap misionaris. Ini mengingatkan kita akan salah satu tujuan pendidikan dan pembentukan dalam Tarekat, seperti dirumuskan oleh Konstitusi kita:

[...] membangkitkan sikap terbuka untuk mendengarkan suara Allah di dalam situasi dunia, di dalam sejarah dan peristiwa-peristiwanya serta menjawabinya secara kristiani. Kepekaan terhadap tanda-tanda zaman merupakan bagian daripada panggilan kita. Kepekaan tersebut harus dilatih selama masa pembentukan dan dibina sepanjang hidup kita (Konst. 507).

Berkembangnya aneka bentuk pelayanan misioner seperti dilukiskan di atas mengungkapkan sikap Tarekat yang tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan konkret di lapangan dan pada zaman tertentu. Lihat saja, misalnya, berbagai undangan dari para Uskup kepada kita, yaitu supaya SVD menyediakan dan memberikan tenaga bagi misi dalam Gerejagereja lokal. Untuk lingkup SVD Indonesia, secara historis, kita mendapat informasi bahwa SVD memulai misinya di Kepulauan Sunda Kecil (mulai dari Bali sampai ke Timor) berdasarkan Dekrit dari Kongregasi Penyebaran Iman, “Pengalihan Kepulauan Sunda Kecil dari Jesuit kepada SVD” (18 Februari 1912). Karena kondisi zaman dan perkembangan teknologi sebelum Perang Dunia I itu pada waktu itu, Dekrit ini hanya bisa diimplementasi setahun kemudian (1913) dengan kedatangan Pater Petrus Noyen, SVD di tanah air.

Begitu juga keadaan sebelum dan sesudah Perang Dunia II dan pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, SVD sering diminta oleh para Uskup untuk menyediakan tenaga-tenaga bagi misi dalam Gereja-gereja lokal. Sebutlah, misalnya, kedatangan para samasaudara kita di Keuskupan Agung Jakarta pada tahun 1954 untuk melayani umat di paroki St. Yoseph, Jatinegara; tahun 1970 di Keuskupan Surabaya untuk melayani umat paroki St. Yohanes Pemandi, Wonokromo; pada dasawarsa 1980an SVD merespon undangan Uskup-uskup di Kalimantan; lalu pada dasawarsa 1990an SVD ikut-serta dalam misi di Sumatra Utara dan sekitarnya.

Sebenarnya kehadiran SVD di Keuskupan Surabaya sudah mulai jauh sebelum pelayanan paroki Wonokromo dipercayakan kepada kita pada tahun 1970. Sejarah Soverdi Surabaya, mulai dari rumah di jalan Jimerto pada tahun 1950an lalu pindah ke jalan Polisi Istimewa (dulu: jalan raya Dr. Soetomo) pada tahun 1975, bisa mengisahkan jejak-jejak misi kita di wilayah ini. Disamping sebagai rumah singgah, Wisma Arnoldus ini utamanya menjadi pusat untuk melayani berbagai kepentingan misi SVD dan Gereja di NTT. Surabaya memang memiliki posisi strategis untuk memfasilitasi dan memajukan berbagai pembangunan di NTT. Sejak tahun 1978 Wisma Arnoldus ini juga menjadi Provinsialat untuk Provinsi SVD Jawa.

Narasi-narasi misioner, baik dari tiap-tiap samasaudara sebagai individu maupun SVD sebagai korps atau lembaga, menggarisbawahi bahwa semangat lintas berbagai batas (sosial, ekonomi, budaya, bahasa, agama, dan sebagainya) dan mobilitas yang tinggi pada intinya merupakan ciri Tarekat kita. Itulah teladan yang kita saksikan dalam diri para senior kita: misi untuk memajukan kehidupan yang lebih bermutu. Ini adalah misi budaya, sebuah misi kemanusiaan.

Saya yakin bahwa di masing-masing distrik selalu ada samasaudara yang menonjol dalam karyanya dan mendapatkan apresiasi tinggi, baik dari pimpinan Gereja-gereja lokal dan umat setempat maupun dari pimpinan Tarekat sendiri. Dalam kepribadian, mereka memiliki integritas yang unggul. Dalam pekerjaan, mereka meninggalkan karya-karya monumental – bangunan-bangunan fisik, lembaga-lembaga sosial-gerejawi, buku-buku bermutu, kaum awam yang berkualitas dan terdidik, umat beriman yang dinamis, dan sebagainya. Singkatnya, mereka telah ambil bagian dalam memajukan peradaban dengan nilai rohani yang membanggakan. Sekali lagi, inilah misi budaya dan misi kemanusiaan. Semua ini menjadi saksi hidup mengenai kearifan misioner yang mereka hayati. Saya percaya bahwa semua peninggalan ini dapat dinilai sebagai kontribusi penting untuk sebuah bangunan ‘budaya yang benarbenar manusiawi’.

Nama-nama para samasaudara kita telah tercatat dalam sejarah masing-masing distrik. Karena itu, di sini tentu tidak perlu mereka disebut satu per satu, karena sudah jelas bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang dibanggakan oleh Tarekat. Mereka adalah orang-orang yang responsif terhadap kebutuhan konkret dan, karena itu, misionaris-misionaris yang kontekstual. Maksudnya, mereka telah terbukti mampu merespon kebutuhankebutuhan konkret dari masyarakat setempat dengan kekhususannya masing-masing. Masyarakat dan budaya di distrik Bali-Lombok sudah tentu berbeda dengan masyarakat dan budaya di distrik Surabaya misalnya, begitu pula dengan distrik Jakarta dan distrik-distrik di Kalimantan dan Sumatera Utara. Kita semua tahu, ada berbagai sebab yang mempengaruhi keragaman kondisi ini, seperti variasi geografis, etnis, sosial, politis, ekonomis, religius maupun kultural. Kita salut dan bangga akan para samasaudara yang mampu secara arif dan penuh minat menanggapi kebutuhan-kebutuhan misi yang amat beragam itu. Kita percaya bahwa dengan dasar spiritualitas yang kokoh, sebagai anak-anak dari zamannya, mereka telah mampu mengembangkan keunggulan diri dalam kreativitas misioner dan kearifan sosio-religius lintas budaya.

Memang kita mengakui pula dengan rendah hati bahwa tidak semua samasaudara memiliki dan menunjukkan kualitas yang membanggakan ini. Ada sinyalemen yang menunjukkan bahwa ada sementara orang yang tetap bergulat dan bahkan bergelut lebih berat lagi dalam problem-problem psikologis, spiritual, dan sosio-kultural setelah mereka berkaul kekal atau ditahbiskan sebagai imam. Mereka bergelut, misalnya, dalam upaya untuk menghayati spiritualitas beralih (passing-over) dan spiritualitas salib (kenosis), upaya untuk mengalahkan pola pikir dan pola laku akuisme (me-first mentality, self-serving culture) dan mentalitas priyayi, pengakuan diri, dan sebagainya. Dalam diri mereka, proses pendidikan dan pembentukan berlanjut agaknya kurang berjalan sesuai dengan ideal yang dirumuskan dalam Konstitusi Tarekat.

Karena itu, perayaan peristiwa historis ini tentu pula merupakan momen untuk memikirkan ulang rancang bangun formasi misi kita, baik formasi dasar (formation for mission) maupun formasi berlanjut (formation in mission). Tema `Formasi Misi’ memang selalu menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan-pertemuan antar kita, baik pada tingkat lokal maupun dalam kapitel-kapitel Provinsi. Perayaan `Kala Santa’ atau Momen Rohani ini adalah penting karena perayaan ini menjadi saat berefleksi dan mengadakan evalusi bersama, disamping untuk memberi apresiasi terhadap capaian-capaian Tarekat sejauh ini. Ini penting, seperti disinggung di atas, untuk ke depannya, guna melakukan penyegaran dan pembaruan komitmen partisipasi misi. Kita ingin semangat ini tepat berkobar sehingga kita juga mampu melakukan terobosan-terobosan misioner secara kreatif dan produktif.

MEMAKNAI IDENTITAS DAN KHARISMA TAREKAT

Semboyan klasik ‘dunia adalah paroki kita’ telah melatarbelakangi kharisma Tarekat untuk melayani misi ad gentes dan inter gentes. Secara teologis semua anggota Tarekat dibina dan terlatih untuk menghayati panggilan misionernya dalam pola relasi segitiga `Gereja-Allah-Dunia’. Maksudnya, kita semua dipanggil, dipilih, dan diutus Allah untuk membangun dunia menurut rencana dan/atau visi-Nya, sebuah keselamatan semesta yang mencakup segala bangsa, bahasa, dan budaya. Secara alkitabiah, dunia adalah medan karya Allah dan kita semua adalah partisipan yang dipercaya untuk ambil bagian di dalamnya. Narasi-narasi karya Allah dalam al-Kitab menunjukkan kepada kita bahwa ada banyak pribadi unggul yang memberikan hidupnya semata-mata `bagi Allah dan sesama’. Dan, Pribadi atau Misionaris teladan yang tiada duanya dalam hal ini adalah Yesus Kristus, inkarnasi Sabda Allah dalam rupa Manusia.

Dengan keikutsertaannya dalam misi ad gentes dan inter gentes ini, SVD berharap bisa turut memajukan kesadaran Gereja-gereja lokal akan dua hal, yaitu keberakaran Gereja dalam budaya-budaya setempat dan interdependensi umat dalam kesatuan Gereja universal.

Pertama, para misionaris perdana kita yang datang di Indonesia dan mereka yang memulai pelayanannya di distrik Bali-Lombok telah memberikan teladan untuk menghormati dan memajukan budaya dan kearifan-kearifan

Merayakan Momentum Historis Misi SVD Tanah Air religius setempat. Dengan tradisi disiplin etnologi dan antropologi yang panjang dalam Tarekat, teladan para misionaris ini mengingatkan kita akan komitmen SVD sejagat untuk terus memajukan inkulturasi. Dengan menyatakan ini, nasihat Beato Yohanes Paulus II (1982) mempunyai makna khusus: “Iman yang belum diinkulturasikan adalah iman yang belum sepenuhnya diterima, yang belum sepenuhnya dipikirkan tuntas, dan yang belum sepenuhnya dihayati.” Singkatnya, keberakaran dalam budaya-budaya setempat merupakan sebuah imperatif teologis setiap Gereja lokal menurut ‘logika Inkarnasi’ dari Sabda Allah yang menjadi manusia.

Kedua, partisipasi misi SVD mempunyai nuansa memajukan panggilan Gereja-gereja lokal. Maksudnya, panggilan Gereja lokal pada intinya mengatasi batas-batas geografis keuskupannya. Partisipasi SVD dalam Gerejagereja lokal kiranya bisa turut menumbuhsuburkan kerjasama antar keuskupan. Secara teologis, salah satu ciri kekatolikan Gereja adalah komunitas beriman antar-budaya atau lintas -etnis dan interdependensi antar Gereja-gereja lokal. Interdependensi ini bisa terungkap dalam berbagai bentuk, seperti misalnya personalia (klerus maupun awam), dana atau finansial, semangat bermisi dan pastoral kontekstual, maupun rancang-bangun teologi setempat. Inti dari interdependensi ini adalah saling belajar, saling meniru, dan saling memperkaya. Dalam komunitas-komunitas SVD sendiri, ciri ini disebut internasionalitas, salah satu karakter penting dalam Tarekat.

Untuk intern kita, saya ingin mengangkat empat pesan yang kiranya baik untuk dikritisi, yakni keteladanan para misionaris, misionaris sebagai pelaku budaya, kebaruan dalam memahami misi, dan pentingnya formasi berlanjut.

Pertama, kita mewarisi keteladanan dari para misionaris dan samasaudara senior dalam melakukan karya-karya misi. Dengan kecakapan bawaan dan hasil binaan dalam formasi dasar pada zamannya, mereka telah melakukan berbagai karya misi dengan semangat terlibat dan kreativitas yang membanggakan. Segala persoalan konkret di daerah misi (ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya, agama, dan sebagainya) menjadi agenda kerja mereka. Praksis misioner ini bisa mereka laksanakan karena dilandasi oleh spiritualitas yang mantap, yakni spiritualitas lintas-budaya dan pengosongan diri (kenosis). Mereka dididik dan terlatih untuk menjadi pribadi-pribadi yang merelakan seluruh hidupnya bagi sesama – bukan hanya sesama sedaerah dan sesuku, tetapi lebih-lebih dan terutama sesama manusia berbagai lintas (etnis, budaya, bahasa, dan agama). Inilah misi untuk meningkatkan mutu kehidupan.

Kedua, tradisi etnologi dan antropologi yang panjang telah membentuk tiap misionaris SVD untuk menjadi pribadi-pribadi yang terbuka kepada kekayaan religio-kultural bangsabangsa. Tradisi akademis dan formasi ‘empati lintas-budaya’ ini merupakan skema dan nada dasar yang membentuk minat samasaudara kita untuk mendalami, melindungi, dan mengembangkan budaya, bahasa, dan tradisi religius setempat. Empati kultural ini menjadi jiwa yang menyebabkan banyak misionaris senior kita yang menjadi kurator, konservator, dan promotor budaya-budaya lokal. SVD adalah Tarekat yang telah menjadi pelaku penting dalam memajukan budaya bangsa-bangsa. Untuk konteks IDJ, distrik Bali-Lombok, misalnya, memiliki pribadi-pribadi unggul dan sangat dihormati oleh lembaga-lembaga non-SVD, baik lokal, nasional, maupun mancanegara. Kita diingatkan akan SVD yang memiliki kharisma dalam misi budaya.

Ketiga, dewasa ini misi tidak lagi sematamata harus dimengerti sebagai karya bagi bangsa-bangsa yang jauh (tak seiman, ad gentes) dan misionaris adalah orang-orang yang pergi meninggalkan daerah kelahirannya dan berkarya di antara bangsa-bangsa `asing’ itu. Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah membuka kemungkinan untuk bermisi secara baru. Dalam hubungannya dengan pelaku dan/atau pencipta budaya, misi kita dewasa ini mestinya mencakup, bukan hanya budaya-budaya etnis, tetapi juga (dan lebih-lebih?) budaya urban dan/atau pop-culture. Generasi sekarang sangat dipengaruhi dan dibentuk oleh `budaya baru’ ini dan memaknai hidupnya dalam nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti generasi misionaris dari era sebelumnya, kita dewasa ini juga diajak untuk terbuka supaya mampu memberi respon terhadap dinamika budaya zaman ini. Singkatnya, agenda dalam formasi dasar kita mestinya mencakup materi-materi yang membekali para formandi untuk memiliki empati budaya yang memadai, seperti misalnya, cultural studies, social intelligence, psikologi lintas budaya, dan sebagainya.

Keempat, kita sepakat untuk selalu menekankan pentingnya formasi berlanjut. Konstitusi Tarekat kita telah memberikan rumusan yang luas dan mendalam mengenai formasi berlanjut, yang dalam beberapa hal bisa disebut sebagai formation in mission. Banyak contoh telah kita lihat, bagaimana para samasaudara kita telah melakukan `adopsi budaya’ dan `adaptasi budaya’. `Adopsi budaya’ itu merujuk kepada model inkarnatif Logos Ilahi, yang di satu pihak meraga dalam budaya Semit, tetapi sekaligus menyucikan budaya itu dari dalam (bdk. Mat 5-7; 11:16-19). `Adaptasi budaya’ menemukan rujukannya pada teladan Santo Paulus yang `menjadi Yahudi bagi orang Yahudi, menjadi Yunani di antara orang Yunani’ (bdk. 1Kor 9:19-23).

MENCARI PESAN

Semangat kita untuk ambil bagian dalam misi Gereja dan berbagai kreativitas misioner sebagai respon kita terhadap tantangantantangan konkret sepanjang dasawarsadasawarsa yang telah lewat merupakan modal historis yang penuh bobot bagi kita untuk tetap maju dengan optimis. Bila semangat lintasbudaya dan antar-budaya ini tetap menyala, artinya, kepekaan dalam membaca tanda-tanda zaman, kreativitas dan terobosan-terobosan misioner itupun akan tercipta dengan sendirinya. Dirgahayu SVD Indonesia! Dirgahayu Provinsi SVD Jawa! Marilah kita puji Nama Tuhan!

P. Raymundus Sudhiarsa, SVD

Sumber:

Buku Kenangan Perayaan 100 tahun  SVD Indonesia dan 35 tahun SVD Provinsi Jawa